Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2017

Sang Waktu

Detik menjadi menit. Menit menjadi jam. Semua terasa wajar ketika waktu berjalan dengan sebagaimana mestinya. Inginku menjadi waktu agar dapat membunuh segala sesak di dada ini. Sebab waktu akan terus berjalan tanpa peduli keadaan. Dan saat waktu berjalan, ia tak pernah memandang masa lalu. Tapi, dapatkah aku sekejam waktu? Tentu saja tidak, sebab aku masih punya perasaan. Bone, 19 Mei 2017

Diary Taurina

"Bangun Rin!" Sebuah-atau lebih tepat guncangan di bahuku terasa, semakin lama semakin keras. Ku pikir hanya mimpi tapi suara seorang perempuan yang memekakkan telinga semakin mengangguku. Huaahhh ini 'kan hari minggu dan aku ingin sekali saja dalam seminggu menjadi orang yang tidak memiliki aturan, tidak ada bangun pagi, tidak ada omelan karena lupa tugas, dan tidak ada omelan rapiin kamar. "Ichhh kebo banget sichh ini anak! Wooyyy TAURINA!!!!" Langsung saja aku bangun terduduk dengan mata yang terbuka lebar. Kak Maya berdiri di depan kamarku dengan kedua lengan terlipat di bawah dada. Ini hari minggu dan kulihat Kak Maya tampil begitu kasual dengan blouse kuning dilapisi kardigan hijau yang menjuntai hingga mata kaki dan sebuah celana pendek jins yang super ketat. Oh ya lengkap dengan hills 7 centi di kakinya. "Mau kemana?" Tanyaku dengan mulut menguap masih ngantuk. Jam bundar yang menempel di dinding belakang Kak Maya menunjukkan p...

Sepasang Mata Biasa

Aku punya mata seperti manusia lain. Digunakan untuk melihat terkadang untuk menikmati warna-warna indah alam yang diciptakan sang Ilahi. Suatu anugerah Tuhan memberiku mata, karena dengan mata ini aku juga bisa memandangmu, meski dari jauh. Mataku mungkin tak seindah kala pelangi muncul setelah hujan. Tapi inginku kau tahu jika mataku akan selalu memandangmu dengan binar-binar bahagia. Karena apa? Karena kaulah pemilik belantara yang tengah kujelajahi dalam gelap. Karena hanya kaulah yang benar-benar bisa kupandang. Bone 19 Mei 2017

Klise

Jauh berbeda Seumpama kau adalah hujan dan aku bumi Lantas di bagian mana mereka bisa beriringan? Omong kosong Jauh berbeda Tak akan pernah sama Sebanyak apapun menyamakan Tetap saja beda Inginku kau laksana daun kering Dan aku angin yang dapat menerbangkanmu Kemanapun kau mau Tanpa ada jarak diantara kita Bone 20 Mei 2017

Pelita Kecil

Pelita kecil itu lumrah kusebut kau. Maaf jika kau menganggap perumpaanku untukmu terlampau kecil. Aku lebih senang menyebutmu pelita kecil dibanding matahari. Kau tau mengapa? Karena aku egois. Ingin memilikimu hanya untukku. Bukan untuk yang lain. Kau tanya alasannya? Sebab pelita kecil memiliki nyala yang redup. Meski redup namun sanggup menerangi langkahku. Sedangkan matahari, dia terlampau terang. Sanggup menerangi langkah setiap orang. Harapanku, semoga hanya aku yang dapat memiliki cahayamu. Bone 19 Mei 2017

Into You / Prolog

Orang-orang memanggilku Medina, ya karena memang itulah nama yang sering disebutkan oleh orang yang mengenalku. Oke aku tidak akan mempermasalahkan perihal namaku. Kali ini aku akan sedikit bercerita mengenai sosok lelaki yang begitu ku kagumi hingga ke sendi-sendi tubuhku. Sosok yang entah mengapa begitu menarik perhatianku. Dia terlihat begitu berbeda dari kebanyakan orang yang kutemui hingga memerhatikan dia menjadi keharusan bagiku. Ya hanya tentang dia. Jangan mengira aku begitu menyedihkan sekarang karena ku pastikan ini bukanlah cerita menyedihkan hanya karena aku begitu mengagumi dia. Aku selalu merasa jika semua bagian yang terlihat maupun tidak dari dirinya telah ku ketahui semua, setidaknya itulah yang ada di benakku. Dan sepertinya aku telah melewatkan bagian yang terpenting dari dia. Nyatanya aku terlalu yakin dengan perasaanku hingga menutup mata terhadap perasaan dia yang selalu menjadi alasan mengapa senyumku terbit hanya dengan mengingat namanya....